Postingan

Mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama Al Ghazali Cilacap dan Aliansi Mahasiswa Gelar Aksi di Pendopo, Soroti Isu Nasional dan Lokal

Robik Gianto28



LPM Dialektika UNUGHA Cilacap, 24 Juni 2026 – Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Nahdlatul Ulama Al Ghazali Cilacap bersama sejumlah aliansi mahasiswa lainnya menggelar aksi unjuk rasa di depan Pendopo Kabupaten Cilacap pada Selasa (23/6/2026). Aksi tersebut dilakukan sebagai bentuk kepedulian mahasiswa terhadap berbagai persoalan nasional maupun daerah yang dinilai membutuhkan perhatian serius dari pemerintah.

Dalam aksi tersebut, massa mahasiswa membawa delapan tuntutan yang mencakup isu-isu nasional dan lokal. Salah satu tuntutan utama yang disuarakan adalah evaluasi menyeluruh terhadap Program Makan Bergizi Gratis (MBG) serta program Koperasi Desa Merah Putih. Mahasiswa menilai kedua program tersebut masih menghadapi berbagai persoalan dalam pelaksanaannya sehingga perlu dilakukan kajian dan evaluasi secara komprehensif agar tepat sasaran dan tidak menimbulkan masalah baru di masyarakat.

Selain isu nasional, mahasiswa juga mengangkat sejumlah persoalan lokal yang dinilai mendesak untuk ditangani. Di antaranya adalah perlindungan terhadap perempuan melalui penyediaan layanan advokasi gratis bagi korban yang mengalami kendala dalam mengakses bantuan hukum. Mahasiswa juga menyoroti pentingnya perlindungan anak dengan memperkuat upaya pemberantasan perundungan (bullying) serta memastikan program pangan yang berkaitan dengan anak berjalan dengan aman dan sesuai tujuan.

Isu perlindungan buruh migran turut menjadi perhatian dalam aksi tersebut. Massa mendesak pemerintah untuk memperkuat pengawasan terhadap praktik Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) dan memberikan perlindungan yang lebih maksimal kepada para pekerja migran Indonesia.

Aksi berlangsung dengan berbagai rangkaian kegiatan. Salah satu yang menarik perhatian adalah penampilan tarian dari mahasiswa asal Papua yang tergabung dalam aksi tersebut. Tarian tersebut ditampilkan sebagai simbol perjuangan, keberagaman, serta bentuk penyampaian aspirasi secara budaya dalam menyuarakan keresahan yang dirasakan masyarakat.

Sepanjang aksi, mahasiswa secara bergantian menyampaikan orasi yang berisi kritik dan harapan terhadap kebijakan pemerintah. Massa aksi juga berupaya untuk bertemu langsung dengan Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Cilacap guna menyampaikan aspirasi secara langsung. Namun, berdasarkan informasi yang diterima, Plt Bupati tidak berada di Pendopo Kabupaten saat aksi berlangsung.

Situasi sempat memanas ketika sejumlah mahasiswa berusaha memasuki area pendopo untuk memastikan adanya pihak yang dapat menerima aspirasi mereka. Upaya tersebut mendapat pengawalan dan pembatasan dari aparat keamanan yang berjaga di lokasi. Meski sempat terjadi ketegangan, kondisi akhirnya kembali kondusif setelah dilakukan komunikasi antara pihak keamanan dan koordinator aksi.

Selanjutnya, hanya perwakilan mahasiswa yang diperkenankan masuk untuk melakukan dialog dengan perwakilan Pemerintah Kabupaten Cilacap. Namun, pertemuan tersebut belum menghasilkan jawaban yang dianggap memuaskan oleh mahasiswa. Setelah melalui proses negosiasi, sejumlah pejabat dan perwakilan pemerintah daerah akhirnya bersedia menemui seluruh peserta aksi di depan pendopo untuk mendengarkan dan menerima penyampaian aspirasi secara terbuka.

Meski demikian, setelah menunggu dan melakukan dialog, mahasiswa mengaku belum memperoleh kepastian terkait tindak lanjut tuntutan yang mereka sampaikan. Kekecewaan juga muncul karena tidak terlaksananya pertemuan langsung dengan Plt Bupati Cilacap sebagaimana yang diharapkan sejak awal aksi.

Setelah seluruh rangkaian kegiatan selesai dan aspirasi disampaikan, massa aksi memutuskan untuk membubarkan diri secara tertib. Mahasiswa menyatakan akan terus mengawal berbagai tuntutan yang telah disampaikan serta mendorong pemerintah agar lebih responsif terhadap persoalan yang dihadapi masyarakat, baik di tingkat nasional maupun daerah.

Posting Komentar