Membaca Ulang Pancasila Lewat Layar : Refleksi Kritis Mahasiswa dari Pancasila Is Me

poster-nobar-dan-diskusi-pancasilaisme

Cilacap, 20 Juni 2025 — Pancasila sebagai dasar negara dan ideologi bangsa Indonesia tercantum dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Ia menjadi pedoman dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Namun, dalam praktiknya, implementasi nilai-nilai Pancasila kerap menimbulkan pertanyaan dan perdebatan di tengah masyarakat.

Hal inilah yang menjadi pemantik dalam sebuah kegiatan nonton bareng dan diskusi film dokumenter Pancasila Is Me yang diselenggarakan oleh LPM (Lembaga Pers Mahasiswa) DIALEKTIKA dan HMPS Manajemen Pendidikan Islam (MPI) di Gedung FKI Universitas Nahdlatul Ulama Al Ghazali Cilacap, Jumat (20/6).

Kegiatan yang berlangsung dari pukul 15.30 hingga 18.12 ini diikuti oleh sekitar 17 peserta, yang terdiri dari mahasiswa lintas fakultas serta masyarakat umum, Acara ini bertujuan membuka ruang refleksi kritis terhadap nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan berbangsa, khususnya dari sudut pandang generasi muda.

Film dokumenter Pancasila Is Me, produksi Watchdoc Documentary bersama ICRS (Indonesian Consortium for Religious Studies) dan UGM Pusat Studi Pancasila, menyajikan potret bagaiaman Pancasila—yang seharusnya menjadi pemersatu bangsa—justru kadang digunakan sebagai alat legitimasi oleh kelompok tertentu.

Lewat kisah nyata seperti pemecatan sejumlah pegawai KPK karena tidak lolos Tes Wawasan Kebangsaan(TWK), pembekuan koperasi rakyat oleh OJK, hingga pembubaran organisasi masyarakat tanpa proses hukum yang tuntas, film ini mengajak penonton untuk mempertanyakan kembali:

Apakah Pancasila masih menjadi milik kolektif seluruh rakyat, atau secara perlahan telah menjelma menjadi simbol yang maknanya lebih ditentukan oleh sekelompok berkuasa?

Sementara itu, pemerintah melalui Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) menegaskan bahwa Pancasil merupakan dasar negara yang dinamis dan terus relevan dalam menghadapi tantangan zaman. BPIP menekankan pentingnya penafsiran Pancasila yang inklusif serta bebas dari kepentingan politis dan diskriminatif. Namun, pelaksanaan nilai-nilai tersebut di lapangan dinilai masih menghadapi berbagai tantangan.

Foto Diskusi Pancasilaisme
Foto Diskusi Pancasilaisme

Diskusi berlangsung secara interaktif dengan moderator Nicky Atikah Zalifunnas ( Bung Nicky) dan dua pemantik utama, yaitu Mas Alan Syahid dan Mas Muddasir Faisal Khak (Mas Fais). Keduanya mengajak peserta untuk menelaah kembali makna Pancasila dari berbagai sudut pandang.

Mas Alan menyampaikan bahwa dalam praktik kekuasaan, Pancasila kerap membingungkan: apakah masih sebagai dasar negara, atau justru telah berubah menjadi alat politik?

Mas Fais menambahkan bahwa forum ini berbeda dari diskusi biasa yang satu arah. Diskusi ini mendorong peserta untuk aktif bertukar pandangan secara setara.

Foto Diskusi Pancasilaisme
Foto Suasana Diskusi Pancasilaisme

Beberapa peserta menyampaikan pandangan reflektif isu-isu yang muncul dalam filem:

Mahrus Ali, mahasiswa peserta diskusi, mempertanyakan apakah Pancasila lahir dari konsensus rakyat atau hasil akomodasi politik. Ia juga menyoroti bagaimana tafsir terhadap Pancasil terus berubah seiring pergantian kekuasaan.

Nur Hidayat, peserta lainnya, menekankan bahwa tanpa penafsiran baku, Pancasila rentan dijadikan alat pelabelan, Ia bertanya, " Apakah Pancasila adalah ideologi atau falsafah? Dan siapa yang berhak menentukan siapa yang paling 'pancasilais'?"

Fathan Nurul 'Amri, menyampaikan bahwa sebagai produk politik, Pancasila seharusnya bisa beradaptasi dengan zaman, tanpa kehilangan fungsinya sebagai pemersatu bangsa.

Novi, peserta dari Winong, mengangkat isu keadilan lingkungan yang dialami oleh masyarakat di kampung halamannya. Ia menilai bahwa sila kelima-Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia-tidak dirasakan secara nyata, terutama ketika konflik lingkungan justru berpihak pada kepentingan korporasi, bukan rakyat. "Kami hanya ingin udara yang bersih dan tanah yang subur. Tapi saat kami menyuarakan itu, yang dibela justru pemodal," ungkapnya.

Diskusi ditutup dengan pernyataan dari Mas Alan, yang menyuarakan krisis kepercayaan terhadap elite dalam menjalankan nilai-nilai Pancasila. Ia mengajak peserta untuk terus merefleksikan dan menjaga nilai-nilai luhur Pancasila agar tidak hanya menjadi jargon, tetapi menjadi pedoman hidup yang mencerminkan keadilan dan keberpihakan pada rakyat.

Foto bersama seluruh peserta dan narasumber setelah Nobar dan Diskusi Pancasilaisme
Foto bersama seluruh peserta dan narasumber setelah Nobar dan Diskusi Pancasilaisme

Kegiatan ini menunjukan bahwa mahasiswa dan masyarakat masih memiliki ruang untuk berdiskusi secara terbuka, kritis, dan konstruktif. Melalui media film dokumenter sebagai pemantik, acara ini berhasil menciptakan ruang dialog yang segar, partisipatif, dan menjunjung tinggi semangat demokrasi.

📌 Catatan Redaksi:

Naskah ini disusun berdasarkan rekaman diskusi dan laporan panitia, dengan menjunjung tinggi prinsip akurasi, netralitas, dan keberimbangan informasi sesuai kode etik jurnalistik.

 

Related Posts

1 komentar

  1. maroep.m
    maroep.m
    Keren