Postingan

Minim Sosialisasi, Mahasiswa UNUGHA Bingung Sistem PTS yang Berubah

Ridwan Nawawi



Pelaksanaan Penilaian Tengah Semester (PTS) Gasal Tahun Akademik 2025/2026 di Universitas Nahdlatul Ulama Al Ghazali (UNUGHA) Cilacap menuai kebingungan di kalangan mahasiswa. Perubahan sistem pelaksanaan ujian dari sebelumnya daring terpusat ke model yang diserahkan sepenuhnya kepada dosen pengampu, tidak disertai sosialisasi yang memadai.

Surat pengumuman resmi dari pihak kampus bernomor B/785/Ybk.041.16/PK.03.02/2025 yang terbit pada 12 November 2025 hanya mencantumkan tanggal pelaksanaan dan syarat administratif, tanpa penjelasan eksplisit bahwa sistem ujian kini tidak lagi daring. Padahal, ujian dijadwalkan mulai tanggal 17 November, hanya berselang lima hari dari pengumuman tersebut.

“Tidak ada informasi jelas apakah ujiannya daring atau luring. Bahkan pamflet PTS juga hanya menampilkan jadwal dan pembayaran,” ujar salah satu mahasiswa.

Kebingungan ini tidak hanya dirasakan mahasiswa umum, namun juga pengurus BEM. Dalam sebuah pesan grup, salah satu pengurus BEM sempat menyampaikan bahwa mahasiswa bisa meminta bantuan soal password ujian. Namun, kemudian diklarifikasi bahwa sistem ujian kini berbeda dan sepenuhnya diserahkan ke masing-masing dosen.

“Noted ya teman-teman, sistem UTS sekarang sudah berbeda. Silakan hubungi dosen masing-masing,” tulis salah satu ketua BEM dalam grup WhatsApp, 16 November 2025.

Minimnya pemberitahuan dan perubahan mendadak ini menimbulkan keresahan di kalangan mahasiswa. Banyak yang merasa tidak siap, terutama bagi mereka yang sudah terbiasa dengan sistem daring. Tak sedikit pula yang tidak mengetahui bahwa ujian akan dilaksanakan secara luring, karena tidak adanya pernyataan eksplisit dalam surat maupun media pengumuman lainnya.

Selain itu, pengumuman juga dinilai lebih menekankan aspek administrasi keuangan ketimbang kesiapan akademik. Hal ini dinilai terlalu mepet dan menyulitkan mahasiswa yang belum mendapat informasi lengkap sebelumnya.

Banyak mahasiswa berharap ke depan pihak kampus dapat memberikan pemberitahuan lebih awal, transparan, dan komunikatif, agar pelaksanaan akademik berjalan lebih tertib dan tidak merugikan mahasiswa secara psikologis maupun administratif. Sosialisasi yang lebih awal dan jelas sangat dibutuhkan agar mahasiswa dapat mempersiapkan diri secara maksimal.

2 komentar

  1. Muhamad Khudaifah_KPI 6A
    Muhamad Khudaifah_KPI 6A
    Akhir akhir ini mahasiswa akhir juga masih bingung soal skripsi, seharusnya dari masing masing fakultas terutama FKI itu membuat semacam sosialisasi atau bedah buku panduan penulisan skeipsi, agar mahasiswa itu lebih paham dan tau praktiknya , saya yakin walaupun ada matkul metopen itu tidak sepenuhnya menjadi bahan mereka bisa mengerjakan skripsi, temen temen sering melihat "wisuda di undur, wisuda di undur" Ya karena minimnya informasi dan sosialisai dari fakultas terkait pembuatan skripsi yang baik dan benar. Saya kira ini cukup di suarakan 🙏🏻
    1. Ridwan Nawawi
      Ridwan Nawawi
      Betul sekali. Minimnya sosialisasi dan kejelasan teknis bikin mahasiswa bingung, baik soal ujian, maupun nanti saat skripsi. Kalau metopen saja dosennya jarang masuk, terus nggak ada pendampingan atau penjelasan lanjutan dari fakultas, ya wajar mahasiswa jadi tertinggal. Harusnya ada forum resmi atau workshop, supaya mahasiswa punya bekal yang jelas dan nggak cuma mengandalkan tebak-tebakan info dari teman. Ini bukan semata soal kesiapan mahasiswa, tapi juga tanggung jawab lembaga.