Cilacap, 16 Februari 2026 - Dunia pendidikan Indonesia kembali menjadi sorotan tajam. Di tengah semangat mencerdaskan kehidupan bangsa, berbagai persoalan justru mencuat ke permukaan, menghadirkan gambaran buram tentang sistem yang seharusnya menjadi fondasi masa depan generasi muda. Huru-hara pendidikan tak hanya menjadi perbincangan di ruang kelas, tetapi juga menggema di jalanan, media sosial, hingga ruang-ruang kebijakan.
Gelombang kritik terhadap kebijakan pendidikan yang diterapkan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia terus bermunculan. Perubahan kurikulum yang dinilai terlalu cepat dan belum merata penerapannya di berbagai daerah memicu kebingungan di kalangan guru dan siswa. Di wilayah perkotaan, adaptasi mungkin lebih mudah dilakukan. Namun di daerah terpencil, keterbatasan fasilitas dan pelatihan membuat kebijakan terasa timpang.
Tak hanya soal kurikulum, kesejahteraan guru honorer menjadi luka lama yang tak kunjung sembuh. Banyak dari mereka menerima upah jauh di bawah standar kelayakan, sementara tanggung jawab yang dipikul begitu besar. Ironisnya, di tangan para guru inilah masa depan bangsa dipertaruhkan. Ketidakpastian status dan minimnya perlindungan menjadi bayang-bayang gelap yang terus menghantui dunia pendidikan.
Kondisi infrastruktur pun tak kalah memprihatinkan. Masih ditemukan sekolah dengan bangunan rusak, kekurangan meja kursi, hingga keterbatasan akses listrik dan internet. Ketimpangan kualitas pendidikan antara kota dan desa semakin nyata. Anak-anak di daerah terpencil harus berjuang lebih keras hanya untuk mendapatkan hak belajar yang setara.
Mahasiswa dan elemen masyarakat pun mulai bersuara. Aksi damai digelar di berbagai kota sebagai bentuk kepedulian terhadap arah pendidikan nasional. Mereka menuntut transparansi, pemerataan anggaran, serta kebijakan yang lebih berpihak pada rakyat kecil. Pendidikan, menurut mereka, tidak boleh menjadi eksperimen kebijakan tanpa kesiapan matang.
Di tengah gelapnya situasi, harapan tetap ada. Para pengamat menilai bahwa reformasi pendidikan harus dilakukan secara komprehensif, tidak sekadar mengganti kurikulum atau program. Pemerataan kualitas guru, peningkatan kesejahteraan tenaga pendidik, serta pembangunan infrastruktur yang merata menjadi kunci utama.
Huru-hara pendidikan hari ini adalah cermin bahwa sistem masih perlu pembenahan serius. Jika tidak segera ditangani, dampaknya bukan hanya dirasakan saat ini, tetapi akan membentuk generasi yang kehilangan arah dan kesempatan.
Pendidikan adalah cahaya peradaban. Ketika cahaya itu mulai redup, seluruh bangsa seharusnya tersadar untuk kembali menyalakannya.
Penulis: Robik Gianto
