Hari Buruh, Mahasiswa Cilacap Soroti Pengaruh Industri Terhadap Masyarakat

Ridwan Nawawi

Diskusi dihadiri oleh berbagai elemen mahasiswa dari UNUGHA, PNC, UNAIC, dan STIE Muhammadiyah 

CILACAP, 1 Mei 2026 – Peringatan Hari Buruh Internasional di Cilacap diwarnai dengan diskusi mahasiswa yang menyoroti dampak ekspansi industri terhadap tatanan sosial masyarakat lokal. Diskusi bertajuk "Rendahnya Penyerapan Tenaga Kerja Lokal di Tengah Ekspansi Industri" yang digelar di Gedung FKI UNUGHA ini dihadiri berbagai puluhan mahasiswa lintas kampus. Tema ini berangkat dari kegelisahan mahasiswa terhadap minimnya penyerapan tenaga kerja ditengah gempuran industri Cilacap.

Presiden Mahasiswa UNUGHA, Maryam, menyoroti anomali ekonomi yang terjadi di Cilacap. Ia menekankan bahwa banyaknya sektor industri belum mampu membebaskan masyarakat dari jerat kesulitan finansial yang berujung pada tingginya angka perceraian.

"Kita melihat industri sangat banyak, namun masyarakatnya masih kesulitan ekonomi. Masalah finansial ini bahkan menjadi faktor utama tingginya angka perceraian di Cilacap," ujar Maryam.

Senada dengan Maryam, Ketua Komisi 1 Advokasi dan Perlindungan Hukum Badan Perwakilan Mahasiswa (BPM) Politeknik Negri Cilacap (PNC), Indra, memberikan analisis yang lebih tajam mengenai fenomena tersebut. Menurutnya, pertumbuhan industri saat ini sering kali menciptakan jurang pemisah bagi warga sekitar.

"Sebagai orang luar Cilacap, saya melihat ada paradoks yang cukup jelas. Industri tumbuh dengan wajah modern dan megah, tapi di saat yang sama masyarakat lokal justru terdorong ke pinggiran," ungkap Indra. 

Indra juga mengkritik sistem pendidikan nasional yang dinilainya terlalu tunduk pada kebutuhan pasar. Menurutnya, pendidikan saat ini kehilangan marwahnya dalam memanusiakan manusia.

"Kurikulum pendidikan di Indonesia hanya membentuk setiap lulusannya menjadi mesin industri, sehingga mengakibatkan hilangnya akal yang bebas dari manusia itu sendiri. Jika industri memaksa manusia mengikuti jalannya efisiensi, maka yang hilang bukan cuma waktu istirahat, tapi makna dari manusia itu sendiri," tegasnya.

Lebih lanjut, Indra mengambil contoh kasus Kabupaten Karawang untuk menggambarkan bagaimana industrialisasi dapat mengubah identitas suatu daerah.

"Karawang dulu dikenal sebagai kota padi, tapi semakin lama masyarakatnya bergantung sepenuhnya pada industri," tambahnya.

Meski melontarkan kritik, Indra menjelaskan bahwa gerakan mahasiswa tidak bermaksud menolak kemajuan secara buta. Baginya, yang diperlukan adalah keberanian untuk menata ulang sistem yang ada.

"Sebenarnya bukan berarti industri sepenuhnya salah. Tapi kalau tetap eksploitatif, berarti itu tetap menjadi lingkaran yang mengulang ketimpangan. Menurutku bukan soal menolak industri sepenuhnya, tapi bagaimana kita berani mendekonstruksi atau membayangkan ulang sistem ekonomi yang lebih berpihak pada manusia," tutur Indra.

Diskusi ini akan ditindaklanjuti dengan konsolidasi berbagai elemen mahasiswa se-Cilacap untuk merumuskan langkah audiensi dan kajian yang lebih spesifik kepada pemangku kebijakan.

"Sebagai langkah awal, nantinya kita akan melakukan kajian lebih spesifik lagi dan melakukan audiensi. Kita akan melakukan konsolidasi terlebih dahulu dengan rekan rekan mahasiswa terutama ditingkat BEM dan DPM universitas yang ada di Cilacap," pungkas Maryam.

إرسال تعليق