المشاركات

Meramu Sop Buah Toleransi: Saat Batik, Peci, dan Alkitab Bersanding di FKI

Ridwan Nawawi

CILACAP, DIALEKTIKA – Tepat pada Hari Kebangkitan Nasional, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FKI bekerja sama dengan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Cilacap menggelar forum Dialog Lintas Iman di Ruang Aula FKI Universitas Nahdlatul Ulama Al Ghazali (UNUGHA), Rabu (20/5). Dalam forum tersebut hadir perwakilan pemerintah, akademisi, tokoh lintas agama serta penghayat kepercayaan untuk membedah urgensi kerukunan beragama di tingkat lokal. Acara bertema “Dari perbedaan menuju pemahaman: dialog lintas iman untuk generasi moderat” ini, berlangsung hangat dan dinamis.

Mengutip pandangan Ketua FKUB Cilacap, Pak Fahrur Rozi, M.Hum, ia menegaskan pentingnya kerukunan antar umat beragama. “Saya programnya yang saya sampaikan kepada temen-temen yang penting bisa ber-haha hihi secara lepas. Karena jika bisa tertawa lepas, berarti kita rukun kompak.”

Lutfiana Nikhmatulkhoeriah selaku ketua panitia juga menyampaikan bagaimana indahnya perbedaan yang ada. Perempuan yang akrab disapa Fiana ini juga mengatakan bahwa, perbedaan hanyalah sebatas pada jalan, sedangkan tujuan kita adalah sama. “Kita berada di tempat yang sama, tapi imannya berbeda. Cara mengaplikasikan iman berbeda, dan cara menghadapi hidup berbeda. Nah, inilah yang membentuk Indonesia. Agama itu bentuk komunikasi kita kepada tuhan. Ibarat gunung yang tinggi, ada banyak jalur pendakian (agama) yang berbeda, tetapi semuanya menuju ke puncak yang sama (Tuhan),” ujarnya.


Sambutan Ketua Panitia 

“Moderasi beragama itu seperti sop buah, bukan jus buah. Di dalam jus, semua unsur dilebur hingga kehilangan identitas aslinya. Sedangkan dalam sop buah, aneka jenis buah bersatu dalam satu wadah tanpa mengubah identitas rasa masing-masing. Berbeda, tapi bersanding harmonis dalam bingkai toleransi,” jelas Fiana.

Gagasan sop buah ini berkaitan erat dengan fondasi kesetaraan yang dibuka oleh Dekan FKI, Dr. Misbahussurur, S.H., M.Si. Ia mengunci arah forum agar berjalan adil tanpa dominasi kelompok tertentu. “Agama mestinya membuka ruang agar kita mau berdialog secara setara. Tidak ada mayoritas maupun minoritas,” tegasnya.

Alur berpikir merdeka ini kemudian diperkuat oleh Sekretaris FKUB sekaligus perwakilan Kemenag, Bapak Toha. Melalui konsep “Kurikulum Cinta”, beliau membedah nilai universalitas seperti keadilan, persatuan, dan komitmen kebangsaan agar generasi muda keluar dari jebakan ekstremisme. “Umat beragama diharapkan tidak fanatik dan tidak abai, cara berpikir tersebut disebut moderasi. Dalam beragama disebut moderasi beragama. Saya yakin di setiap agama ada ajaran cinta, Buddha juga ada, Islam juga ada,” terangnya.

Namun, dialog tidak dibiarkan berjalan linier tanpa evaluasi. Pemuka agama Katolik, Romo Vincent, justru melempar otokritik tajam yang menghentak nalar kritis mahasiswa di dalam ruangan. Mengenakan masker karena kondisi kesehatan yang kurang fit, beliau mengingatkan bahwa esensi iman harus mencerahkan nalar, bukan membutakannya.

“Mayoritas orang Indonesia beragama tapi tak beriman. Bagaimana memahami agama secara benar sehingga bisa dicerahkan oleh agama sehingga bisa berpikir kritis? Perbedaan bukan ancaman, tapi kesempatan. Kalau peluang ini hilang, Indonesia hancur. Kita tidak harus sama untuk dapat hidup bersama. Karena perbedaan itu adalah keindahan,” ujar Romo Vincent lugas.

Beliau juga menambahkan bahwa kedewasaan iman tidak akan goyah hanya karena membuka diri. “Dialog lintas iman itu bukan mencampuradukkan agama atau kompromi terhadap keyakinan. Iman yang dewasa tidak takut berdialog. Dengan berdialog, Islam menjadi orang Islam yang baik, dan Katolik menjadi orang Katolik yang baik,” tambahnya.

Daya kritis yang tumbuh di ruang akademik ini diakui sangat membantu kerja elektoral pemerintah daerah. Perwakilan Kesbangpol Kabupaten Cilacap yang hadir mengakui bahwa keterlibatan mahasiswa adalah kunci. “Tugas Pemda dalam kerukunan umat beragama memerlukan sinergi, dan kegiatan yang menekankan berpikir kritis seperti ini sangat membantu Kesbangpol,” ungkapnya.

Narasi perdamaian ini pun menggelinding secara alami ke dalam pembuktian teologis dan kultural para tokoh yang hadir di panggung. Uniknya, pluralisme itu tidak saling berbenturan, melainkan saling menggenapi.

Perwakilan Penghayat Kepercayaan, yang mengawali pemaparannya dengan syahdu lewat tembang Asmarandana, menjelaskan bahwa ketuhanan dalam rasa Jawa adalah soal budi pekerti yang bersumber dari adat istiadat, mencakup keselarasan dengan Tuhan (manunggaling kawula Gusti), keselarasan dengan sesama makhluk, hingga dengan alam. “Menurut kami agama adalah rasa Jawa. Agama Adalah ageman, aji adalah orang yang berbudi pekerti luhur. Budi pekerti adalah norma dan etika. Yang mana norma etika iniberasal dari adat istiadat,” tuturnya sembari menyitir watak orang Jawa yang terbuka (open) dan luwes agar musuh yang kalah bisa dirangkul sebagai saudara (menang tanpa ngasoraken).


Kedekatan teologis itu bersambut hangat dari perwakilan umat Hindu yang hadir dengan pakaian batik hijau khas NU. Beliau menguraikan sloka “Eka Eva Aditya Brahman” untuk menjelaskan sifat Tuhan (Sang Hyang Widhi) yang tanpa batas di tengah keterbatasan bahasa manusia, yang kemudian diwujudkan dalam laku sosial melalui konsep 'Tat Twam Asi' (“Aku adalah Engkau, dan Engkau adalah Aku”). “Agama itu ada dua unsur kata. 'A' artinya tidak, 'gama' artinya pergi. Supaya hadir. Menghadirkan Tuhan yang berkuasa,” jelasnya.

Hubungan antarumat beragama di Cilacap harus melompat lebih jauh dari sekadar formalitas kata toleransi. Meminjam pemikiran para pemersatu bangsa seperti Gus Dur, Mahatma Gandhi, dan Empu Tantular, perwakilan Hindu menegaskan, “Yang diharap bukan hanya toleransi yang masih mengandung nuansa ‘lo lo, gue gue’, tetapi apresiasi yang artinya penghormatan aktif. Merendahkan agama lain sama seperti merendahkan agama sendiri.”

Wujud apresiasi aktif tersebut diceritakan secara emosional oleh Romo Tara dari Buddha, yang mengisahkan bagaimana umat Buddha dan Tionghoa membuatkan altar khusus dan setiap bulan mendoakan Gus Dur dalam upacara keagamaan Agni Homa. Di tengah gesekan internal yang sering terjadi di setiap agama, Romo Tara mengajak mahasiswa memandang perbedaan dengan kepala dingin dan hati yang lapang. “Kita berharap semua makhluk bahagia. Hari ini kamu lahir jadi demit, semoga di kehidupan selanjutnya kau jadi manusia yang mulia,” ucapnya hangat.

Menutup jalannya forum, Gubernur FKI, Rafi Nabila Akmal Al Assad, mengunci seluruh gagasan para tokoh menjadi sebuah komitmen gerakan konkret di tangan mahasiswa.

“Berbeda itu fitrah, memahami itu pilihan, dialog itu jalan. Jadi dalam dialog pada hari ini, semoga terwujud perbedaan yang saling mengenal dan saling memahami,” pungkas Rafi mantap. Ini sekaligus menegaskan bahwa BEM FKI UNUGHA siap menjadi wadah yang menjaga agar identitas tiap-tiap “buah” di Cilacap tetap utuh dalam semangkuk sop buah perdamaian.


إرسال تعليق