Festival Tilik Sumber Jepara 2026: Warga Lereng Mrico Tolak Penambangan

Ridwan Nawawi

 


JEPARA — Suasana damai dan sakral menyelimuti Dusun Toplek-Pendem, Desa Sumberrejo, Kecamatan Donorejo, Jepara, pada 29 hingga 30 Mei 2026. Ratusan warga bersama-sama mengarak gunungan raksasa yang tersusun dari jagung, pisang, dan aneka hasil bumi. Bertepatan hari anti tambang, Festival Tilik Sumber ini digelar untuk kedua kalinya dengan mengusung tema "Menolak Eksploitasi, Menjaga Ruang Hidup".

​Secara harfiah, tilik sumber berarti mengunjungi atau menengok mata air. Gerakan ini bukan sekadar aksi protes biasa, melainkan sebuah ritual sosial di mana warga kembali menegaskan hubungan spiritual dan fungsional mereka dengan tanah dan air. Dengan berjalan bersama menuju titik-titik mata air di lereng gunung, warga secara kolektif memantau kondisi alam sekaligus menyuarakan komitmen menjaga ruang hidup mereka.

​Nama Sumberrejo sendiri, menurut catatan warga sekitar, erat kaitannya dengan keberadaan banyak sumber mata air di wilayah tersebut. Namun, masyarakat belakangan ini merasa khawatir karena ruang hidup yang agraris dan tenang mulai dibayangi oleh menjamurnya aktivitas industri ekstraktif.

​Merajut Solidaritas di Bawah Bayang-Bayang Darurat Ekologis

Pembacaan doa di sumber Jambe/Pendem

​Gerakan perlawanan kultural ini tidak tumbuh dalam semalam. Rangkaian festival dirancang secara matang selama dua hari penuh sebagai ruang pertemuan bagi para pejuang keadilan. Langkah awal perjuangan dimulai pada Jumat 29 Mei 2026, di mana desa ini menjadi ruang silaturahmi bagi jaringan solidaritas pejuang keadilan lingkungan se-Jawa Tengah beserta elemen mahasiswa.

​Pertemuan hangat ini dihadiri oleh berbagai simpul masyarakat lintas wilayah, mulai dari Cilacap, Dieng, hingga pesisir Jepara. Kehadiran para solidaritas ini menjadi ruang bagi warga untuk bertukar cerita mengenai pentingnya menjaga warisan alam demi generasi mendatang.

​Front solidaritas yang turut melebur dalam ruang kebudayaan ini antara lain Laskar Jagat Caping Gunung Desa Sumberrejo, Gerakan Masyarakat Pundenrejo, Gerakan Tani Karangsari, Petani Kawulo Alit Mandiri Dayunan, Forum Masyarakat Winong Peduli Lingkungan, Warga Bandungharjo, Forum Nelayan, hingga Perpustakaan Rakyat Dieng. Mereka melebur dalam diskusi hangat, menyatukan suara di tengah situasi darurat perusakan alam yang kian mengepung ruang hidup mereka.

​Nilai Spiritual Ruwat Sumber dan Kedaulatan Air Warga

​Puncak festival terjadi pada Sabtu 30 Mei 2026 melalui prosesi Ruwat Sumber Air. Setelah diarak keliling kampung, warga berkumpul di sekitar sumberan mata air utama untuk melangsungkan doa bersama yang dipimpin oleh tokoh agama setempat, Kyai Sukron Ma'mun. Kehadiran tokoh agama ini memberikan dimensi moral yang sejuk dalam jalannya tradisi.

Watu Toplek, Dukuh Toplek, Sumberrejo

​Dalam pengantar doanya, Kyai Sukron mengingatkan warga agar senantiasa bersyukur atas limpahan berkah berupa air bersih yang tiada hentinya mengalir sejak zaman dahulu.

​"Kita datang ke sumber ini tidak lain; bentuk penghormatan kita kepada makhluk-Nya Allah berupa mata air yang ada di sini. Oleh karena itu wajib hukumnya mensyukuri. Wong sing duwe roso matur nuwun iku luwih apik daripada ra duwe blas rasa matur nuwun," tegas Kyai Sukron. Ucapan itu langsung disahut serempak oleh warga, "Betul!".

​Kyai Sukron juga mengingatkan betapa vitalnya mata air tersebut bagi urat nadi kehidupan komunal. "Di bawah ini ada banyak persawahan juga tidak lain diambil dari mata air yang ada di sini. Itu merupakan anugerah dari Tuhan Yang Maha Esa... memberikan suatu titik mata air yang tiada hentinya sejak dulu. Dan itu suatu keberkahan bagi Dukuh Pendem dan sekitarnya. Dan keberkahan itu akan terus mengalir, mengalir, dan mengalir hingga anak cucu kita nantinya."

Sumber Jambe/Pendem, Dukuh Jambe, Sumberrejo 

​Saking melimpah dan murninya kualitas air di desa ini, Ketua RW 3 Dukuh Toplek, Ali Imron, membeberkan fakta bahwa sumber mata air tua tersebut bahkan pernah ditawar oleh perusahaan air minum kemasan raksasa, Aqua. Namun, warga kompak menolak korporasi itu masuk demi mempertahankan kedaulatan air mereka.

​Bagi warga setempat, menjaga mata air adalah urusan hidup dan mati. Ali Imron menjelaskan bahwa ritual Tilik Sumber ini adalah bentuk syukur sekaligus pengingat ontologis yang mendasar bagi manusia.

​"Tujuannya agar lingkungan hidup ini tetap lestari," ujarnya. "Karena kita yang butuh alam, bukan alam yang butuh kita. Kita sangat membutuhkan alam karena alam menghasilkan suatu nikmat yang luar biasa terutama di kehidupan kita, ya pangan," lanjut Ali.

​Dinamika Lingkungan dan Isu Tambang

​Masyarakat juga menyuarakan persoalan program tanggung jawab sosial perusahaan atau corporate social responsibility (CSR) serta kompensasi langsung berupa beras 5 kilogram per tahun yang dinilai mayoritas warga belum menyentuh kebutuhan nyata mereka, sehingga mereka tegas menolaknya.

​"Kalau kita kalkulasi, 5 kilo setahun itu dibagi 12 bulan, setengah kilo per bulan saja tidak ada. Padahal pertanian kita di sini bisa panen tiga kali dalam satu tahun karena airnya lancar banget," kata Ali.

Aktivitas penambangan di desa Sumberejo 

​Di sisi lain, berdasarkan publikasi eksternal dari pihak pengusaha tambang yang dilansir oleh Mondes, korporasi mengeklaim telah menyiapkan sejumlah program komitmen dan iktikad baik untuk warga Dukuh Pendem dan Toplek. Program-program tersebut meliputi beasiswa pendidikan anak usia sekolah, pembangunan fasilitas pemandian umum dan sumur air bersih, bantuan pembangunan masjid, penyaluran sembako, pemeliharaan jalan akses desa, hingga skema pemberdayaan tenaga kerja lokal. Pihak pengusaha juga menegaskan bahwa seluruh aktivitas penambangan Galian C yang mereka lakukan di wilayah tersebut berstatus legal.

​Meskipun terdapat klaim komitmen tersebut, warga di lapangan mengeluhkan adanya tekanan psikologis dan persoalan hukum yang menyasar beberapa individu kontra-tambang. Ali mencontohkan pengalamannya yang sempat dilaporkan ke pihak berwajib, meski perkara tersebut tidak berlanjut karena tidak terpenuhinya bukti hukum. Warga menuntut agar segala bentuk intimidasi dihentikan dan setiap rencana aktivitas luar wajib melalui musyawarah terbuka bersama masyarakat. "Jalan saja warga gak setuju, apalagi tambang," tegasnya..

​Tuntutan untuk Gubernur dan Harapan dari Lereng Mrico

​Memasuki Sabtu malam, dilakukan pembacaan pernyataan sikap bersama oleh gabungan kaum tani dan nelayan Jawa Tengah. Dalam manifesto kebudayaan tersebut, aliansi masyarakat menyampaikan aspirasi kedamaian lingkungan yang ditujukan kepada pemangku kebijakan, yang meliputi empat poin utama:

  1. ​Menghentikan segala bentuk upaya kriminalisasi terhadap pejuang lingkungan dan HAM.
  2. ​Menghentikan perampasan lahan warga dan segera melakukan reforma agraria.
  3. ​Menghentikan segala bentuk proyek industri ekstraktif, baik di sektor pertambangan maupun energi.
  4. ​Menghentikan segala bentuk perampasan ruang laut dan menegaskan kedaulatan nelayan.

​Setelah pembacaan pernyataan sikap selesai dilakukan, malam yang panjang dilarutkan dalam panggung hiburan rakyat. Hiburan ini sengaja dihadirkan di sesi akhir untuk merawat napas perjuangan, melepas penat, dan memastikan api kebersamaan antarwarga desa tidak padam.

​Ketua RW, Ali Imron menitipkan sebuah harapan besar dan pesan mendalam, yang menyuarakan isi hati terdalam dari warga lereng Mrico kepada pemangku kebijakan dari tingkat daerah hingga pusat.

​"Saya sebagai warga biasa mengharapkan kepada pemerintah, tolonglah dengarkan rakyatmu," tutur Ali Imron pelan namun sarat ketegasan. "Kita itu mencintai lingkungan, bukan semerta-merta kita melawan perusahaan itu karena ada kebencian atau apa. Tapi kita mementingkan bagaimana pentingnya lingkungan, karena alam itu adalah ketahanan pangan yang menghasilkan pangan yang luar biasa."

​Ia memandang hamparan desanya dengan kecemasan yang nyata akan masa depan anak cucu mereka jika ekosistem alam di sana dibiarkan rusak.

​"Kalau itu terjadi kerusakan, aku yakin kemiskinan atau ketidaksetaraan ketahanan pangan ini akan terjadi lagi, dan orang-orang akan kesusahan mencari ekonomi," tegas Ali. "Karena apa? Lahan pangannya diserobot oleh perusahaan. Inilah yang harus diberikan pemerintah. Mudah-mudahan pemerintah dari bawah ke pusat mendengar suara kami, bahwa apa yang kita perjuangkan itu bermanfaat bagi orang banyak. Tolonglah kepada bapak pemerintah yang di atas, mulai dari bawah, dari pak gubernurnya dan seterusnya, tolonglah didengarkan suara kami yang sedang memperjuangkan bagaimana pentingnya lingkungan ini," pungkasnya.


إرسال تعليق